Teknik Interpretasi Citra
1. Data Acuan
Citra menyajikan gambaran lengkap yang mirip wujud dan letak sebenarnya. Kemiripan wujud ini memudahkan pengenalannya pada citra, sedang kelengkapan gambarannya memungkinkan penggunaannya oleh beragam pakar untuk beragam keperluan. Meskipun demikian, masih diperlukan data lain untuk lebih meyakinkan hasil interpretasi dan untuk menambah data yang diperlukan, tetapi tidak diperoleh dari citra. Data ini disebut data acuan yang dapat berupa pustaka, pengukuran, analisis laboratorium, peta, kerja lapangan, foto terrestrial maupun foto udara selain citra yang digunakan. Data acuan dapat berupa tabel statistik tentang meteorologi atau tentang penggunaan lahan yang dikumpulkan oleh perorangan maupun oleh instansi pemerintah.
Penggunaan data acuan yang ada akan meningkatkan ketelitian hasil interpretasi yang akan memperjelas lingkup, tujuan, dan masalah sehubungan dengan proyek tertentu. Meskipun citra menyajikan gambaran lengkap, pada umumnya masih diperlukan pekerjaan medan yang dimaksudkan untuk menguji atau meyakinkan kebenaran hasil interpretasi citra bagi obyek yang perlu diuji. Pekerjaan ini disebut uji medan (field check) yang terutama digunakan di beberapa tempat yang interpretasinya meragukan. Karena uji medan dapat dilakukan pada tempat-tempat yang mudah dicapai untuk mewakili perwujudan sama yang terletak di tempat yang jauh dari jalan, untuk obyek yang tidak meragukan interpretasinya pun sebaiknya dilakukan pula kebenarannya. Karena dapat diambil tempat yang mudah dicapai, pekerjaan ini pada umumnya tidak menambah waktu, tenaga, dan biaya yang berarti, akan tetapi keandalan hasil interpretasinya jadi meningkat cukup berarti.
2. Kunci Interprestasi Citra
Kunci interpretasi citra pada umumnya berupa potongan citra yang telah diinterpretasi serta diyakinkan kebenarannya, dan diberi keterangan seperlunya. Keterangan ini meliputi jenis obyek yang digambarkan, unsur interpretasinya, dan keterangan tentang citra yang menyangkut jenis, skala, saat perekaman, dan lokasi daerahnya. Kunci interpretasi citra dimaksudkan sebagai pedoman dalam melaksanakan interpretasi citra, dapat berupa kunci interpretasi citra secara individual maupun berupa kumpulannya. Kunci interpretasi citra dibedakan atas dasar ruang lingkupnya dan atas dasar lainnya.
a. Atas Dasar Ruang Lingkupnya
Berdasarkan ruang lingkupnya, kunci interpretasi citra dibedakan menjadi empat jenis, yaitu:
Kunci individual (Item key),
yaitu kunci interpretasi citra yang digunakan untuk obyek atau kondisi individual.
Misalnya kunci interpretasi untuk tanaman karet.
Kunci subyek (Subject key),
yaitu himpunan kunci individual yang digunakan untuk identifikasi obyek-obyek atau kondisi
penting dalam suatu subyek atau kategori tertentu.
Misalnya kunci interpretasi untuk tanaman perkebunan.
Kunci regional (regional key),
yaitu himpunan kunci individual atau kunci subyek untuk identifikasi obyek-obyek atau kondisi
suatu wilayah tertentu. Wilayah ini dapat berupa daerah aliran sungai, wilayah administratif
atau wilayah lainnya.
Kunci analog (analogues key)
yaitu kunci subyek atau kunci regional untuk daerah yang terjangkau secara terrestrial tetapi
dipersiapkan untuk daerah lain yang tak terjangkau secara terrestrial.
Misalnya digunakan kunci interpretasi hutan Kalimantan untuk interpretasi hutan di Irian Jaya.
Cara ini tidak dianjurkan, kecuali di dalam keadaan darurat.
b. Atas Dasar Lainnya
Di samping berdasarkan lingkupnya, kunci interpretasi citra sering dibedakan dengan beraneka dasar. Salah satu dasar pembeda lainnya ialah pada karakter dasar atau karakter intrinsiknya. Berdasarkan karakter intrinsiknya ini maka kunci interpretasi citra dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
Kunci langsung (direct key),
yaitu kunci interpretasi citra yang disiapkan untuk obyek atau kondisi yang tampak langsung pada
citra, misalnya bentuk lahan dan pola aliran permukaan.
Kunci asosiatif (associative key),
yaitu kunci interpretasi citra yang terutama digunakan untuk deduksi informasi yang tidak tampak
langsung pada citra, misalnya tingkat erosi dan kepadatan penduduk. Kunci interpretasi citra
sebaiknya digunakan untuk daerah tertentu saja, yaitu yang dibuat untuk daerah "A" tidak
seyogyanya diterapkan begitu saja untuk daerah "B" kecuali untuk kunci analog.
3. Penanganan Data
Citra dapat berbentuk kertas cetakan atau transparansi yang juga semakin banyak digunakan. Transparansi dapat berwujud lembaran tunggal maupun gulungan. Dalam menanganinya perlu berhati-hati jangan sampai menimbulkan goresan atau bahkan penghapusan padanya. Untuk transparansi gulungan lebih mudah penanganannya, akan tetapi terhadap yang lembaran perlu lebih berhati-hati, baik lembaran transparansi maupun lembaran kertas cetak.
Cara sederhana untuk mengatur citra dengan baik ialah
a) Menyusun citra tiap satuan perekaman atau pemotretan secara numerik dan menghadap ke atas,
b) Mengurutkan tumpukan citra sesuai dengan urutan interpretasi yang akan dilaksanakan dan
meletakkan kertas penyekat di antaranya,
c) Meletakkan tumpukan citra sedemikian sehingga jalur terbang membentang dari kiri ke kanan
terhadap arah pengamat, sedapat mungkin dengan arah bayangan mengarah ke pengamat,
d) Meletakkan citra yang akan digunakan sebagai pembanding sebelah-menyebelah dengan yang
akan diinterpretasi, dan
e) Pada saat citra dikaji, tumpukan menghadap ke bawah dalam urutannya (Sutanto, 1992).
4. Penanganan streoskop
Pengamatan stereoskopik pada pasangan citra yang bertampalan dapat menimbulkan gambaran tiga dimensional bagi jenis citra tertentu. Citra yang telah lama dikembangkan untuk pengamatan stereoskopik ialah foto udara. Citra jenis ini dapat digunakan untuk mengukur beda tinggi dan tinggi obyek bila diketahui tinggi salah satu titik yang tergambar pada foto. Disamping itu juga dapat diukur lerengnya. Perwujudan tiga dimensional ini memungkinkan penggunaan foto udara untuk membuat peta kontur. Disamping foto udara, dari pasangan citra radar atau citra lain yang bertampalan juga dapat ditimbulkan perwujudan tiga dimensional bila diamati dengan stereoskop. Syarat pengamatan stereoskopik antara lain adanya daerah yang bertampalan dan adanya paralaks pada daerah yang bertampalan. Paralaks ialah perubahan letak obyek pada citra terhadap titik atau sistem acuan. Pada umumnya disebabkan oleh perubahan letak titik pengamatan (Wolf, 1983). Titik pengmatan ini berupa tempat pemotretan. Pertampalan pada foto udara berupa pertampalan depan (endlap) dan pertampalan samping (sidelap).
5. Metode Pengkajian
Pekerjaan interpretasi citra dimulai dari pengakajian terhadap semua obyek yang sesuai dengan tujuannya. Meskipun demikian, banyak penafsir citra yang lebih suka mulai dengan menyiapkan seluruh atau sebagian besar daerah yang dikaji, kemudian dilakukan seleksi dan kajian terhadap obyek yang dikehendaki. Para penafsir citra umumnya sependapat bahwa interpretasi citra sebaiknya mengikuti metode tertentu, yaitu mulai dari pertimbangan umum yang dilanjutkan ke arah obyek khusus atau dari yang diketahui ke arah yang belum diketahui.
Pada dasarnya ada dua metode pengkajian secara umum, yaitu:
a.Fishing expedition
Citra menyajikan gambaran lengkap obyek di permukaan bumi. Sebagai akibatnya maka bagi penafsir citra yang kurang berpengalaman sering mengambil data yang lebih banyak dari yang diperlukan. Hal ini disebabkan karena penafsir citra mengamati seluruh citra dan mengambil datanya seperti orang mencari ikan di dalam air, yaitu menjelajah seluruh daerah. Penggunaan metode ini berarti pengamatan seluruh obyek yang tergambar pada seluruh citra.
b.Logical search
Penafsir citra mengamati citra secara menyeluruh tetapi secara selektif hanya mengambil data yang relevan terhadap tujuan interpretasinya. Dengan kata lain diartikan bahwa penafsir citra hanya mengkaji obyek atau daerah secara selektif. Contoh, eksplorasi deposit minyak bumi hanya dicari di daerah endapan marin, khususnya yang berupa daerah berstruktur lipatan.
6. Penerapan Konsep Multi
Konsep multi ialah cara perolehan dan analisis data penginderaan jauh yang meliputi:
1). Mulitispektral
Ada tiga manfaat citra multispektral yaitu:
a. Meningkatkan kemampuan interpretasi citra secara manual Objek pada citra lebih mudah dikenali pada citra multispektral maupun multisaluran dengan spektrum elektromagnetik yang dirinci menjadi spektrum sempit. Hal ini disebabkan karena pada spektrum semput tertentumaka karakterristik objek sering lebih menonjol bedanya terhadap karakteristik spektral objek pada saluran sempit lainnya maupun terhadap spektrum lebar. Rincian spektrum ini dapat dilakukan pada spektrum tertentu seperti pada spektrum ultraviolet, pada spektrum tampak pada spektrum unframerah, atau pada spektrum gelombang mikro. Dan dapat pula berupa rincian lebih satu spektrum, misalkan spektrum tampak dan spektrum inframerah pantulan atau spektrum tampak dan spektrum inframerah termal. Citra yang dibuat berdasarkan rincian yang dibuat berdasarkan rincian lebih dari satu spektrum disebut citra multispektra (multispektral).
b. Di mungkinkannya pembuatan komposit warna atau padauan warna (color composit) berdasarkan citra multispektral hitam putih, dan Manfaat lain citra multispektral ialah dilakukannya penajaman warna (color enhancedapment) dari tiga citra multispektral hitam putih yang semula belum dapat dikenali. Kemudian dapat dikenali karena diwujudkan dengan warna yang beda terhadap objek lain dipertajam. Hasil akhirnya berupa citra paduan warna.
c. Di mungkinkan peragaan citra paduan warna dengan menggunakan alat pengamat warna aditif (additive color viewer). Bila datanya berupa data digital multispektral maka: Pengamatan warna aditif (additivdengae color viewer) dilakukan dengan alat yang disebut pengamatan warna aditif (additivdengae color viewer). Warna aditif yaitu warna biru, hijau, dan merah. Bila panduannya berdasarkan dua warna aditif maka yang terbentuk adalah warna komplementer yaitu warna kuning (merah+hijau). Warna cyan (hijau+biru), dan warna magenta (biru+merah). Warna komplementer juga disebut dengan jalan substraksi satu warna aditif terhadap sinar putih (Paine 1981)
d. Memungkinkan dilakukan pengenal yaitu warna pola (patternrecognition) sehingga kemampuan interpretasinya meningkat sangat berarti. Pada data digital, tiap pixel (unit terkecil yang terekam oleh sensor) mempunyai nilai digital tertentu. Tiap objek memiliki nilai spektrum tertentu dan nilai spektrum tersebut berbeda pada panjang gelombang yang berbeda.
2). Multitingkat
Menggunakan wahana dengan ketinggian terbang diatas permukaan bumi atau tinggiorbit berbeda-beda. Dalam pelaksanaan penginderaan jauh perlu diperhatikan ,yaitu;keseragaman waktu perekaman dari satelit maupun dari pesawat.pemotretan dilakukan pada saat satelit melewati dan merekam daerah yang dikaji dekat sebelumnya atau dekat sesudahnya. Hanya dengan cara demikian dapat diharapkan perujudan yang serupa bagi banyak objek yang sama. Konsep multitingkat membuahkan kategori seperti skla besar,sedang dan kecil dibatasi masing-masing oleh skala1:10.000 atau lebih besa antara1:10.000 hingga 1:30.000 dan lebih kecil dari 1:30.000.Bagi citra satelit dibatasi oleh skala 1:50.000 atau lebih besar,antara 1:50.000 hingga 1:250.000 dan lebih kecil dari 1:250.000 3). Multitemporal Data suatu daerah yang menggambarkan kondisi saat perekaman yang berbeda dengan adanya data dengan frekuensi ulang yang pendek yaitu maka dimungkinkan untuk memantau perubahan cepat seperti perkembangan kota. Dengan adanya data dengan frekuensi ulang yang pendek itu maka dimungkinkan untuk memantau perubahan cepat seperti perkembangan kota, pengurangan hutan, luas tanaman pertanian dan sebagainya. Pantauan ini akan lebih sulit bila dilakukan dengan cara lain.
4). Multiarah
Sensor yang dapat diputar kearah yang berbeda dapat meningkatkan kemampuan pengadaan data penginderaan jauh,terutama bagi daerah tropika yang banyak penutup awan.Sensor dapat diarahkan bebas awan bila daerah dibawahnya tertutup awan.Dengan bertambahnya kemungkinan data tersebut maka bertambah pula kemungkinan untuk menginterpretasikan dan memanfaatkan.sebagai contonya sensor multiarah yaitu: Sensor pada satelit SPO yang akan diluncurkan pada akhir tahun 1985, dan kenyataannya telah diluncurkan pada awal tahun 1986.
5).Multipolarisasi
Konsep ini diterapkan pada citra radar,pulsa tenaga yang dipancarkan dari antena dapat dipolarisasikan sehingga gerakannya mengikuti bidang datar (H)dan tegak(V).Dengan demikian maka sekurang-kurangnya ada 4 jenis panduan polarisasi yaitu polarisasi paralel yang berupa HH dan VV dan silang berupa HV dan VH.Polarisasi HH berarti pulsa tenaga yang dipancarkan menurut bidang mendatar demikian pulan dengan tenaga baliknya. Rona objek yang direkam dengan radar HH dan radar HV dapat berlainan ujudnya. Sebagai contoh Jabins Jr. (1978) mengemukankan dua citra radar HH dan Hv saluran HV saluran K bagi daerah Nikaragua Timur. Pada dua citra radar tersebut sama-sama tampak cerah dan air danau sama-sama tampak gelap.
6). Multidisplin
Citra penginderaan jauh menyajikan gambaran lengkap sehingga ia merupakan sarana yang baik sekali bagi pendekatan multidispliner.
No comments:
Post a Comment